1. INCOME TAK TERBATAS
2. DILEMA REPEAT ORDER
Benarkah Income dalam MLM tak terbatas?
Income tak terbatas itu bukankah justru milik bisnis konvensional?
MLM mestinya membicarakan Level, namanya juga Multi Level Marketing? jadi bukannya Bonus Kerja?. Misalnya akan menjadi bintang 5 qualified kalau ada DL dengan bintang 5 dst. Itulah yang sebenarnya BONUS KERJA. Semestinya MLM membesarkan BONUS LEVEL ini tinimbang BONUS KERJA
Income dalam MLM justru terbatas dengan tegas. Misalnya untuk bonus kepemimpinan sampai 10 level dst. Sebab kalau tidak dibatasi tentu saja perusahaan akan bangkrut. Dengan demikian statemnet para Upline yang menyatakan " Anda bisa mendapatkan income berapapun yang anda inginkan". sangat menipu dan membodohi masyarakat.
Income dalam MLM biasa diperoleh dari rekruitmen member baru dan repeat order. Umumnya repeat order tidak disukai (kecuali yang benar-benar membutuhkan produknya).Akhirnya keharusan untuk tutup point untuk mendapat bonus membuat member MLM menumpuk Produk yang dibelinya, ujung-ujungnya jadi pedagang eceran.
Dilema repeat order biasanya dibungkus dengan SHARING dan PENGHARGAAN. Sharing ternyata ada syarat misalnya:
- Harus qualified
- Harus ada side volume (Group, sharing internasional dll)
- Sharing bukan semata-mata dibagi rata, melainkan proporsional (group yang besar tentu saja mendapatkan sharing yang lebih besar, group yang kecil mendapatkan sharing yang lebih kecil).
Penghargaan tidak serta merta dibagi setelah mendapatkan untung, melainkan dengan berbagai syarat juga. Umumnya yang dirasakan sangat berat adalah persyaratan tentang PROGRES (misalnya akan mendapat Bonus Mobil Mewah atau Tour kalau 6 bulan berturut-turut qualified).
Anehnya SHARING dan PENGHARGAAN menjadi "DREAMS" semua distributor, padahal probabilitasnya luar biasa kecil (misalnya 1 diantara 6.000 member).
Seringkali member sebuah MLM melupakan bahwa tatkala ada promosi saja sulit menjalankan, apalagi diluar bulan promosi. Orang seringkali berusaha keras mewujudkan impiannya di masa promosi, dan imipian telah tercapai, fasilitas promosi telah lewat (terlambat). Yang perlu diperhitungkan adalah tidak ada satupun perusahaan yang tidak memperhitungkan untung rugi dalam berbagai kebijakan marketingnya.
3. MEMBERLAKUKAN TUTUP POINT DENGAN TANPA ADA PROGRAM YANG MEMFASILITASI UNTUK TUTUP POINT
Member baru biasanya sulit melakukan tupo sebab incomenya masih kecil, dan kelompok inilah yang justru paling terbebani. Biasanya member terbebani dengan penyeimbang (side volume), peringkat dll dan masih ditambah harus tupo, ini kurang/tidak fair. Syarat bisa mengambil bonus level dengan memberlakukan syarat tutup point, adalah kurang fair. Mestinya tutup point difasilitasi oleh adanya mekanisme tutup point dalam menjalankan bisnisnya.
4. MEMBER YANG MENDAPATKAN INCOME BESAR DALAM BINARY, HANYA YANG DIATAS?.
Pada hakekatnya hal itu berlaku dalam banyak profesi dalam kehidupan, dalam profesi konvensional dan sejenisnya. Misalnya Dokter senior incomenya lebih tinggi dari yang Junior, demikian pula dosen, pegawai, peneliti dll. MLM sistem matahari-pun juga demikian. Hanya saja total payout lebih bisa diprediksi di sistem matahari, sedangkan dalam binary kurang, kecuali yang sudah memiliki sistem yang sangat bagus dan handal.
5. PASIVE INCOME
Perlu diketahui bahwa pasive income tidak sama dengan kebebasan finansial. Pada hakekatnya pasive income adalah ketika orang lain yang bekerja, kita tetap mendapatkan income. Semakin banyak jumlah member (DL) semakin tinggi probabilitas memperoleh pasive income.
6. PENSIUN DINI
PENSIUN artinya tidak bekerja tetapi tetap mendapatkan uang. Pada hakekatnya PENSIUN DINI dalam MLM cenderung membius saja. Sebab kenyataannya ketika tidak membina/membangun jaringan, ketika tidak menjalankan sistem, atau ada pesaing bisnis yang dahsyat, jaringan lama-kelamaan mati, dan status pensiun hanya sebentar saja. Semakin besar jaringan probabilitas pensiun, probabilitas pasive income semakin besar, demikian pula sebaliknya.
7. BEBAS FINANSIAL
Bebas finansial, pada hakekatnya adalah sejumlah apa yang telah kita miliki, bukannya apa yang masih harus kita perjuangkan. Bebas finansial juga cenderung hanya membius (probabilitasnya kecil)
8. MEMBAYAR PERAYAAN KESUKSESAN PARA UPLINE
Seringkali sebuah sistem dalam MLM merayakan kesuksesan para Upline yang telah meraih posisi tertentu, mereka biasanya mendapatkan berbagai bonus. Anehnya mereka yang berhasil ini masih diminta menjadi pembicara dan biasanya juga masih mendapatkan "Amplop tebal lagi". Siapa yang harus bayar semua itu? Tentulah para "Rakyat Kecil", para DL yang umumnya uangnya belum banyak. Seorang teman dengan sinis mengatakan "Lawong untuk tepuk tangan perayaan kesuksesan Upline kok DL yang masih melarat yang harus bayar, mestinya ya para Upline yang merayakan pesta kemenangan itu yang harus bayar?.
9. TIDAK MENCERDASKAN DL/PROSPEK
Banyak Upline yang didalam mencari DL (Memprospek Orang) dengan cara-cara tidak mencerdaskan hingga ke hal-hal yang destruktif (menebarkan isu yang tidak jelas), dari yang merengek hingga yang mengancam, sehingga prospek biasanya "Terpaksa bergabung", dengan cara begitu jaringan dijamin tidak akan langgeng. Ada juga yang mengajak ikut di MLM sambil menjelekkan MLM yang sedang ditekuni orang yang diajak itu, biasanya menghasilkan efek sebaliknya (kontra produktif), kecuali kalau data dan fakta ?kejelekan? memang sangat kuat. Kalau prospek dibuat cerdas, sebenarnya dia sendiri yang akan mengejar Upline untuk bergabung, dan biasanya lebih langgeng.
10. BEREBUT DOWNLINE
Beberapa Upline oleh karena sistem kerjanya, oleh karena bonus-bonusnya sering berebut mencari Downline, cukup jarang terjadi sebaliknya. Tentu saja berebut adalah hal yang wajar sebab setiap rebutan yang berhasil ada nilai uangnya, tetapi sering melupakan nilai kemanusiaannya. Sering prospek terganggu kenyamanannya hingga ke tingkat privasinya.
11. TIDAK MEMBENTUK KOMUNITAS YANG MEMILIKI BARGAINING POWER YANG TINGGI
Kebanyakan orang terjebak senantiasa ingin menjadi leader top, dan kurang memperhatikan rasa kebersamaan. Padahal kalau membentuk komunitas yang kuat dan cerdas, mereka akan memiliki bargaining power yang sangat tinggi ke berbagai arah. Misalnya akan tetap konsistens ke MLM lama yang digelutinya (selama company memang konsisten dan terus meningkatkan kualitas disegala bidang). Kalaupun MLM baru yang datang dan menawarkan uang booking dan bonus yang lebih menggiurkan, bisa negosiasi dengan company lama mau begini tidak ? Kalau tidak kita akan rame-rame pindah?. Sebaliknya MLM baru yang mau bookingpun, tidak hanya menawarkan ratusan juta, melainkan milyaran. Komunitas yang kuat dan cerdas juga tidak mudah termakan isyu yang mudah menghancurkan bisnisnya sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar